Tampilkan postingan dengan label wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wacana. Tampilkan semua postingan

Agama sebuah pilihan alternatif?

Diposting oleh Kang Awin on Minggu, 06 Januari 2013

Sungguh ironis sekali ketika agama hanya dianggap sebagai tempat pelarian dan pilihan alternatif bukan sebuah keharusan dan kesadaran yang dalam diri manusia sebagai hamba tuhan di muka ini. Contoh di atas menggamparkan ketidakberdayaan, ketidakkonsistenan manusia dalam beragama. Agama dibutuhkan atas dasar untung dan rugi tanpa adanya kometmen total, bahwa kita butuh Tuhan.

Di abad modern dan majunya IPTEK sekarang ini, peranan agama semakin terpojok serta teralienasi dalam masyarakat yang rasional. Berkembangnya IPTEK membuat orang semakin bersifat individual dan disibukkan oleh urusa-urusan yang berbau duniawi, tidak heran kalau kebanyakan orang menganggap dunia adalah terminal terakhir, sehingga menafikan kehidupan setelah mati, karena dianggap tidak rasional dan bertentangan dengan jalan pilihannya, lantas yang menjadi pertanyaan, apakah eksistensi agama masih berperan dalam masyarakat yang modern di saat ini.

Di Eropa, munculnya sekularisme pada abad pertengahan menandakan kemenangan akal atas agama, dari kemenangan itu muncullah semangat berfikir bebas tanpa ada kontrol dari agama, mereka merasa telah dilahirkan dalam suasana baru dan merasa bebas dari jeruji-jeruji agama, sehingga mereka menyebutnya masa Renaisans (kebangkitan kembali) sehingga pada saat itu mucullah berbagai ungkapan diantaranya: “Jika seorang yang mengikuti fakultas Sokrates, meski hidup sengsara dan kelaparan ,itu justru lebih baik daripada menjadi budak”,”saya lebih suka berada di neraka jahanam dengan mata terbuka (memiliki pengetahuan ),dari pada berada dalam surga dalam keadaan buta (bodoh ), dengan kata lain karna supaya matanya dapat terbuka, ia mesti melanggar perintah tuhan dan mengesampingkan agama.

Memang pada saat itu ilmu pengetahuan berkembang dengan pesatnya, tetapi disisi lain kekeringan spiritual tidak bisa terelakkan, karena mereka mengira semua misteri dan problem-problem dalam hidup hanya bisa di pecahkan oleh ilmu pengetahuan. Sehingga kebutuhan orang terhadap agama pada waktu itu sangat berkurang. Memang benar yang di katakan Arief Budiman”semakin maju ilmu, semakin berkurang peranan agama”. Begitu sebaliknya, “semakin tidak berkembang ilmu, semakin kokoh peranan agama “. Seperti zaman renaisans, ketika ilmu belum berkembang, agamalah yang memberi jawaban atas misteri-misteri hidup manusia. Manusia relative merasa aman  menjelaskan misteri lewat agama, ketika mereka merasa tidak mampu menjelaskan misteri secara rasional. Maka untuk memenuhi akan penjelasan tersebut mereka berusaha mencari penjelasan yang irrasional, dan agama tampaknya tempat yang cocok untuk menjawab misteri tersebut, terlepas apakah apakah jawaban tersebut benar atau tidak.

Berbeda dengan yang di utarakan Sigmund Freud dalam buku Psikologi Islam,agama dalam ciri-ciri psikologisnya adalah ilusi, yakni kepercayaan yang dasar utamanya adalah angan-angan (wish fulfilment). Menurut dia, manusia lari pada agama disebabkan oleh ketidakberdayaanya menghadapi bermacam-macam bencana seperti, bencana alam, takut mati, keinginan manusia agar terbebas dari siksaan lainnya, takut pada seorang pemimpin yang tiran, dan semacamnya. Sehingga agam dibutuhkan hanya pada weaktu-waktu tertentu saja, seperti pepatah mengatakan “Habis manis sepah dibuang”.

Sungguh malang nasib agama bila hanya mempunyai peranan ketika dibutuhkan saja, dan lebih malang lagi orang yang butuh pada agama hanya sebagai pemberi keuntungan dan pelarian. Agama diangggap sebagai pilihan alternatif akhir untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Tanpa ada kesadaran dan komitmen total bahwa kita harus beragama dan yakin atas kebenarannya serta percaya agamalah yang menghidupi kita, menunjukkan kita pada jalan yang lurus lagi benar
More aboutAgama sebuah pilihan alternatif?

Al-qur’an Berbicara Tentang Manusia

Diposting oleh Kang Awin on Selasa, 25 Desember 2012

Ada tiga kata yang digunakan  Al-qur’an untuk menunjuk kepada manusia.

  1.     menggunakan kata yang terdiri dari huruf  alif, nun dan sin semacam Insan, Insan atau unas.
  2.     menggunakan kata basyar
  3.     mengunakan kata bani adam dan zuriyat adam.

Dalam buku-buku filsat tentang manusia mengatakan bahwa manusia adalah termasuk salah satu organisme, disamping tumbuh-tumbuhan dan hewan. Oleh karena itu sebagai organisme mempunyai persamaan unsur-unsurnya dengan orgasme lainnya, walau secara khusus ada unsur yang berbeda. Unsure yang sama ini adalah “benda padat” dan “cair”. Begitu pula Al-qur’an menyebutkan secara rinci proses penciptaan manusia, akan tetapi kata “rinci” di sini hanya bila dibandingkan dalam penciptaannya sebagaimana syihab mengatakan.

      Al-qur’an tidak  menguraikan secara rinci proses kejadian adam yang oleh mayoritas ulama’ dinamai manusia pertama yang disampaikannya dalam konteks ini hanya:

    bahan manusia adalah tanah
    bahan tersebut disempurnakan
    setelah proses penyempurnaannya selesai, ditiupkan kepadanya ruh ilahi (QS. Alhjr (15): 28-29: Shad (38): 71-72).

Pembicaran tentang manusia selanjutnya adalah mengenai Ruh, Al-qur’an mengingatkan kita tentang ruh dengan firmannya.

Dan untuk bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, “Ruh  adalah urusan tuhannku , kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit” (QS.Al-isra’ (17) : 85)

      Pembahasan tentang ruh disini (dalam Al-qur’an) berbeda dengan jiwa yang keduanya sama-sama berada dalam manusia disamping hati dan akal sebagai wujud   dari kehidupan batin manusia yang melingkupi segala apa yang difikirkannya, dirasakannya, di ingatnya, di reka-rekanya, di khayalkannya atau diimpikannya apa yang dialaminya sebagai perangsang, cita-cita tertujunya kemauan dan sebagainya.

      Ruh sebagaimana yang diperdebatkan, masih terjadi perbedaan pendapat antara tokoh filsafat, baik tentang substansinya, kekekalan atau kefanaannya, kebahagiaan atau kesengsaraannya. Karena memang sebagaimana ayat diatas tidak ada kejelasan tentang ruh sendiri selain itu, apa yang dimaksud dengan. Kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit? Yang sedikit itu apa? Apakah yang berkaitan dengan ruh? Sehingga ada informasi sedikit tentang ruh, misalnya gejala-gejalanya ? ataukah “yangb sedikt itu” adalah ilmu pengetahuan kita, tidak termasuk didalam ruh, karena ilmu kita hanya sedikit.
More aboutAl-qur’an Berbicara Tentang Manusia

Waktu dalam Al-Qur'an

Diposting oleh Kang Awin

Manusai tidak dapat melepaskan diri dari waktu dan tempat, mereka mengenal masa lalu, kini dan masa depan. Pengenalan manusia tentang waktu berkaitan dengan pengalaman empiris dan lingkungan. Kesadaran tentang waktu berhubungan dengan bulan dan matahari baik dari segi perjalanannya (malam saat terbenam dan siang saat terbitnya maupun kenyataan bahwa sehari sama dengan sekali terbit sampai terbenamnya matahari, atau setengah malam hingga tengah malam berikutnya. Waktu sebagaimana diketahui mempunyai dua gerakan, baik gerakan didalam rotasi harian bumi yang berputar pada porosnya, dan gerak tahunan bumi dalam orbitnya yang mengelilingi matahari. Dua gerakan tersebut bersama dengan gerakan astronomi lain, merupakan dasar merupakan bagian semua perhitungan dan gagasan tentang waktu).

            1.Dalam kamus besar bahasa Indonesia paling tidak terdapat empat arti kata” waktu”2. seluruh  rangkaian saat yang telah berlalu, sekarang dan yang akan datang. Saat tertentu untuk menjelaskan sesuatu. 3. Kesempatan tempo atau peluang.4. Ketika atau saat tejadinya sesuatu.

            Al-qur’an menggunakan beberapa kata untuk menunjukkan makna-makna daatas seperti

    ATAl, untuk menunjukkan waktu berakhirnya sesuatu.seperti beakhirnya usia manusia atau masyarakat.

Setiap ummat mempunyai batas waktu berakhirnya usia (QS. Yunus (10): 49)

    Dahr digunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam kraya dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakannya sampai punahnya alam semesta ini.

Dan mereka berkata, “kehidupan ini tidak lain saat kita berada di dunia, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan (mematikan) kecuali Dahr (perjalanan waktu yang dilalui oleh alam)” (QS. Al-jatsiyah (45): 24).

    Waqt digunakan dalam batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan suatu peristiwa. Karenalah seringkali Al-qur’an menggunakan dalam konteks kadar tertentu dari satu masa.

Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban kepada orang mukmin, yang tertentu waktu-waktunya (QS. Al-Nsa’ (4): 103).

    Ashr, kata ini biasa diartikan “waktu terbenamnya matahari tapi juga dapat diartikan sebagai “masa” secara mutlak, makna terakhir ini diambil berdasarkan asumsi bahwa Ashr merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan manusia. Kata Ashr sendiri bermakna “perasaan”, seakan-akan masa yang harus digunakan oleh manusia untuk memeras pikiran dan keringatnya, dan hal ini hendaknya dilakukan kapan saja sepanjang masa.”
More aboutWaktu dalam Al-Qur'an

SISTEM PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN PESANTREN

Diposting oleh Kang Awin on Senin, 17 Desember 2012

Dalam realitasnya, penyelenggaraan system pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren dewasa ini dapat digolongkan kepada 3 bentuk :

1.Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam, yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut diberikan dengan cara   nonklasikal (system bandungan dan sorogan) dimana eorang kiai mengajar santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama-ulama besar sejak abad pertengahan, sedang para santri biasanya tinggal dalam pondok atau asrama dalam pesantren tersebut.
 
  2.Pesantren adalah nlembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada dasarnya sama dengan pondok pesantren tersebut diatas, tetapi para santrinya tidak disediakan pondokan di kompleks pesantren, namun tinggal tersebar diseluruh penjuru desa sekeliling pesantren tersebut (santri kalong), di mana cara dan metode pendidikan dan pengajaran agama Islam diberikan dengan system weton, yaitu cara santri datang berduyun-duyun pada waktu-waktu tertentu.

3.Pondok pesantren dewasa ini merupakan lembaga gabungan antara system pondok dan pesantren yang memberikan pendidikan dan pengajaran agama Islam Bandungan, sorogan ataupun wetonan dengan para santri disediakan pondokan ataupun merupakan santri kalongan, yang dalam istilah pendidikan pondok modern memenuhi criteria pendidikan nonformal, serta menyelenggarakan pula pendidikan formal berbentuk madrasah dan bahkan sekolah umum dalam berbagai banyak tingkatan dan aneka kejuruan menurut kebutuhan masyarakat masing-masing.
More aboutSISTEM PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN PESANTREN

TUJUAN DAN CIRI-CIRI TERBENTUKNYA PONDOK PESANTREN SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

Diposting oleh Kang Awin

Dalam mekanisme kerjanya, sisitem yang di tampilkan pondok pesantren mempunyai keunikan dibandingkan dengan sisitem yang diterapkan dalam pendidikan pada umumnya, yaitu :
  1. memakai system tradisional yang mempunyai kebebasan penuh dibandingkan dengan sekolah modern, sehingga terjadi hubungan dua arah antara santri dan kiai.
  2. kehidupan di pesantren menampakkan semangat demokrasi karena mereka praktis bekerja sama mengatasi problema nonkurikuler mereka.
  3. para santri tidak mengidap penyakit simbolis, yaitu perolehan gelar dan ijazah, karena sebagian besar pesantren tidak mengeluarkan ijazah, sedangkan santri dengan ketulusan hatinya masuk pesantren tanpa adanya ijazah tersebut. hal itu karena tujuan utama mereka hanya ingin mencari keridhaan Allah semata.
  4. system pondok pesantren mengutamakan kesederhanaan, idealisme, persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri dan keberanian hidup.
  5. alumni pondok pesantren tidak ingin menduduki jabatan pemerintahan, sehingga mereka hamper tidak dapat dikuasai oleh pemerintah.

Ciri-ciri has pesantren dan sekaligus menunjukkan unsure-unsur pokoknya, yang membedakannya dengan lembaga lainnya, yaitu :
a.    Pondok;
     Adanya pondok sebagai tempat tinggal bersama antara kiai dengan para santrinya dan bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, merupakan pembeda dengan lembaga pendidikan yang berlangsung di masjid atau langgar. Pondok bukanlah semata-mata dimaksudkan sebagai tempat tinggal atau asrama para santri, akan tetapi untuk mengiukuti dengan baik pelajaran yang diberikan oleh kiai, juga sebagai tempat training atau latihan bagi santri yang bersangkutan agar mampu hidup mandiri dalam masyarakat.

b.    Masjid;
Masjid disini berfungsi sebagai tempat melakukan sholat berjamaah setiap waktu sholat, disamping itu juga berfungsi sebagai tempat belajar mengajar. Pada sebagian pesantren masjid juga berfungsi sebagai tempat I’tikaf dan melakanakan latihan-latihan, atau suluk dan dzikir, maupun amalan-amalan lainnya dalam kehidupan tarekat dan sufi.

c.    Santri;
Dalam hal ini ada dua kelompok :
1.    Santri Mukim
Ialah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pondok pesantren.
2.    Santri Kalong
Ialah santri yang berasal dari daerah-daerah sekitar pesantren dan biasanya mereka tidak menetap dalam pesantren. Mereka pulang kerumah masing-masing setiap selesai mengikuti suatu pelajaran di pesantren.

d. Kiai;
Kiai adalah merupakan tokoh sentral dalam pesantren yang memberikan pengajaran. Karena itu kiai adalah salah satu unsur yang paling dominan dalam kehidupan suatu pesantren. Kemasyhuran, perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu pesantren banyak bergantung pada keahlian dan kedalaman ilmu, kharismatik dan wibawa, serta ketrampilan kiai yang bersangkutan dalam mengelola pesantrennya. Dalam konteks ini, pribadi kiai sangat menentukan sebab ia adalah tokoh sentral dalam pesantren.

e.      Kitab-kitab klasik;
Unsur pokok lain yang paling membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya adalah bahwa pada pesantren diajarkan kitab-kitab klasik yang dikarang para ;ulama terdahulu, mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan agama Islam dan Bahasa Arab. Pelajaran dimulai dengan kitab-kitab yang sederhana, kemudian dilanjutkan dengan kitab-kitab tentang berbagai ilmu yang mendalam.
More aboutTUJUAN DAN CIRI-CIRI TERBENTUKNYA PONDOK PESANTREN SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

ASAL USUL PONDOK PESANTREN DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA

Diposting oleh Kang Awin

    Pesantren yang merupakan “Bapak” dari pendidikan Islam di Indonesia, didirikan karena adanya tuntutan dan kebutuhan zaman, hal ini bisa dilihat dari perjalanan sejarah, dimana bila dirunut kembali, sesungguhnya pesantren dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwah Islamiyah, yakni menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam, sekaligus mencetak kader-kader ‘Ulama atau Da’i.   
Pesantren di Indonesia memang tumbuh dan berkembang sangat pesat. Berdasarkan laporan pemerintah kolonial Belanda, pada abad ke- 19 untuk di jawa saja terdapat tidak kurang dari 1.853 buah, dengan jumlah santri tidak kurang 16.500 orang. Dari jumlah tersebut belum termasuk pesantren-pesantren yang berkembang di luar Jawa terutama Sumatera dan Kalimantan yang suasana keagamaannya terkenal sangat kuat.
    Dari jumlah tersebut sebenarnya masih belum termasuk pesantren-pesantren kecil yang hanya memberikan pengajian al-Qur’an dan pengajian al- Qur’an tingkat dasar di langgar-langgar dan masjid. Padahal pada sensus tahun 1885 lembaga pengajian al-Qur’an tingkat dasar tersebut masuk ke dalam kriteria pesantren.
    Meskipun jumlah yang dikemukakan diatas hanya untuk Jawa, tidak berarti mengenyampingkan perkembangan pesantren diluar Jawa yang juga dari waktu ke waktu terus tumbuh dan berkembang.
More aboutASAL USUL PONDOK PESANTREN DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA

PONDOK PESANTREN SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

Diposting oleh Kang Awin

More aboutPONDOK PESANTREN SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

SEJARAH MUNCULNYA SEKULARISASI

Diposting oleh Kang Awin

     Sekularisasi dan sekularisme adalah sebuah paham yang mana keduanya tidak bisa di lepaskan dari pemikiran barat pada abad -15 dan abad  16, yang mana mereka menyebutnya sebagai zaman  Renaisan (yang berarti kelahiran kembali). Nama ini mencerminkan sebuah suasana intektual yang bebas dari kunkungan gereja. Orang –orang pada waktu itu merasa di lahirkan kembali pada dunia baru, suasana baru dan kesan baru, kesadaran baru. Dengan kekuasaan dan kekuatanya. Karena mereka merasa bebas dari kekangan dan hegemoni gereja. Kemudian pda giliranya manusia di tempatkan sebagai kedudukan sentral denga kekuatan rasionya. Pada ahirnya mereka cendrung mengandalkan dan mendewakan daya pikir secara mutlak, ironisnya mereka meminggirkan agama karena di aggap sebagai penghalang bagi kemajuaan ilmu pengetahuan. Sehingga mereka menciptakan jurang pemisah antara agama dan urusan duniawi.
     Di abad -17, manusia menjadi terpenting dalam pemikiran moderen yang di pelopori oleh pemikiran Descartes dengan kenyakinan” cagito ergo sum” (saya berpikir maka saya ada), dan hal ini menjadi dasr rasionalisme,yang kemudian menjadi sumber ilmu pengetahuaan moderen. Adapun kedudukan rasio bagi Descartes yaitu merupakan pusat manusia. Karna melalui rasio atau pikiran secara sistematis, berbagai misteri alam akan dapat di tentukan secara pasti.
     Pada abad -18 yakni zaman “aufklarung”(pencerahan)pada david hume dengan teori empirismenya,dia menolak dengan tegas metafisika dalam aktifitas ilmiah .karna dimensi penting dalam sekularisasi adalah “penidak keramatan alam”.di dorong oleh pandangan demikian,filsafat barat berkembang dengan pesat dan mantap, sehingga menekankan segi humanitas, individualitas, dan kebebasannya. Yang mana pada akhirnya kecenderungan ini membawa kepada konsekwensi yang menyebabkan keragu-raguan (skeptisisme), hingga kecenderungan ini sampai meragukan eksistensi tuhan.apalagi dengan tampilnya filosof Jerman di abad ke19 Friedrich Nietzsche, yang menyatakan bahwa di dunia barat “tuhan telah mati”, dalam arti bahwa manusia telah membunuh potensialitas dirinya sendiri menjadi pembunuh tuhan, sehingga ia teralienasi dari tuhan sesungguhnya.Pengertian “tuhan telah mati” ini dimaksudkan bahwa agama Kristen telah kehilangan nilai-nilai spritualitasnya. Gejal semacam ini akan menyebabkan tibanya dunia tanpa tuhan dan tanpa agama sam sekali.Paling tidak agama dikesampingkan dari urusan duniawi dan individual, sehinggga peranan agam semakin kecil dan tipis, karna orang tidak perlu laagi mencari perlindungan dan jawaban atas pertanyaan dari agama, melainkan dari ilmu dan teknologi.
     Di abatd ini, banyak timbul bermacam-macam isme, seperti positivisme, materialisme, marxisme dan lain-lain, sehingga Harun Hadi Wijono menyebut abad ke 19 sebagai abad yang ruet.
     Filsafat abad ke 20 berbeda dengan abad ke 19 atau abad sebelumnya. Pada saat ini ilmu semakin maju dan semakin terspesialisasi. Sehingga orang hanya bisa mengikuyti atau mempelajari satu atau beberapa ilmu sekaligus.Kebanyakan filosof abad ini spesialis dalam bidang matematika, fisika, psikologi dan ekonomi.Menurut Bernard Delfgaaw terdapat dua masalah kefilsafatan yang sangat menonjol pada abad ini, yaitu di bidang etika dan filsafat bahasa.Mungkin karena Bernard melihat filsafat abad ke 20 terdapat corak yang umum, yaitu Logosentrisme atau tekanan pada tema bahasa.
    Setelah melihat pembahasan tentang sejarah timbulnya sekularisasi di atas, kita dapat menyimpulkan sekularisasi merupakan persoalan fundamental dan actual, yang terutama muncul di Eropa bersamaan dengan proses reformasi, Renaisanse, serta gerakan protestantisme, dan kemudian disusul dengan periode Aufklarung (pencerahan) pada abad ke 18, yang mana pad abad ini manusia mendewakan dan mengagungkan akalnya (rasio), sehingga faham ini membawa manusia bangga dengan kemampuannya kemudian mengesampingkan hal-hal yang di luar jangkauan akalnya, sehingga realitas Tuhan dikesampinglkan, diragukan, bahkan ada yang menentangnya (Atheis).
    Dan munculny sekularisasi di barat disebabkan interaksi berbagai faktor seperi yang telah disebutkan di atas, antara lain faktor inbdividualisme, rasionalisme, kritisisme yang man menyebabkan manusia lebih mementingkasn rasio daripada agama, serta memuja ilmu dan tekhnologi sebagai problem solving atas pertanyaan-pertanyaan mereka.  
More aboutSEJARAH MUNCULNYA SEKULARISASI

TASAWUF SEBAGAI OLAH RUHANI

Diposting oleh Kang Awin

Ketika Nabi muhammad s.a.w. disebut sebagai seorang Rasul yang paling berhasil dalam mewujudkan misi sucinya, bukti untuk mendukung penilaian itu ialah hal-hal yang bersifat sosial-politis, khususnya yang dalam bentuk keberhasilan ekspansi-ekspansi militer. Dan Nabi Muhammad s.a.w. sama dengan beberapa Nabi yang lain seperti Musa dan Dawud a.s. adalah seorang "Nabi Bersenjata" (Armed Prophet), sebagaimana dikatakan oleh sarjana sosiologi terkenal, Max Weber. Karena kenyataan itu, ada sementara ahli yang hendak mereduksikan misi Nabi Muhammad s.a.w. sebagai tidak lebih daripada suatu gerakan reformasi sosial, dengan program-program seperti pengangkatan martabat kaum lemah (khususnya kaum wanita dan budak), penegakan kekuasaan hukum, usaha mewujudkan keadilan sosial, tekanan kepada persamaan umat manusia (egalitarisme), dan lain-lain. Dalam pandangan serupa itu, Nabi Muhammad s.a.w. tidak bisa disamakan dengan Nabi 'Isa al-Masih, karena ajaran Nabi Muhammad tidak banyak mengandung kedalaman keruhanian pribadi. Tetapi Nabi Muhammad s.a.w. lebih mirip dengan Nabi Musa a.s. dan para rasul dari kalangan anak turun Nabi Ya'qub (Isra'il), yang mengajarkan tentang betapa pentingnya berpegang kepada hukum-hukum Taurat (Talmudic Law).

Bahwa Nabi Muhammad s.a.w membawa reformasi sosial yang monumental kiranya sudah jelas. Al-Qur an sendiri mengaitkan keimanan serta penerimaan seruan Nabi dengan usaha reformasi dunia (ishlah al-ardl). Tetapi di berbagai tempat dalam al-Qur an juga disebutkan bahwa tugas reformasi dunia itu tidak hanya dipunyai oleh Nabi Muhammad, melainkan juga oleh para nabi yang lain.9 Dan Nabi Muhammad memang telah melaksanakannya dengan sukses luar biasa. Salah satu pengakuan yang jujur dari pihak luar Islam atas sukses Nabi dalam membawa reformasi dunia ini ialah yang diberikan oleh Michael H. Hart. Dalam bukunya yang memuat urutan peringkat seratus orang yang paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia, Hart menempatkan Nabi Muhammad sebagai manusia nomor satu yang paling berpengaruh. Ia menegaskan:

"Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang kepada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi."

Namun disamping itu al-Qur'an juga banyak menegaskan tentang pentingnya orientasi keruhanian yang bersifat ke dalam dan mengarah kepada pribadi. Justru sudah menjadi kesadaran para sarjana Islam sejak dari masa-masa awal bahwa Islam adalah agama pertengahan (wasath) antara, di satu pihak, agama Yahudi yang legalistik dan banyak menekankan orientasi kemasyarakatan dan, di pihak lain, agama Kristen yang spiritualistik dan sangat memperhatikan kedalaman olah serta pengalaman rohani serta membuat agama itu lembut. Seperti dikatakan Ibn Taymiyyah, "Syari'ah Taurat didominasi oleh ketegaran, dan Syari'ah Injil didominasi oleh kelembutan; sedangkan Syari'ah al-Qur an menengahi dan meliputi keduanya itu."

Maka sebagai bentuk pertengahan dan sekaligus antara kedua agama pendahuluannya itu, Islam mengandung ajaran-ajaran hukum dengan orientasi kepada masalah-masalah tingkah laku manusia secara lahiriah seperti pada agama Yahudi, tapi juga mengandung ajaran-ajaran keruhanian yang mendalam seperti pada agama Kristen. Bahkan sesungguhnya antara keduanya itu tidak bisa dipisahkan, meskipun bisa dibedakan. Sebab ketika orang Muslim dituntut untuk tunduk kepada suatu hukum tingkah laku lahiriah, ia diharapkan, malah diharuskan, menerimanya dengan ketulusan yang terbit dari lubuk hatinya. Ia harus merasakan ketentuan hukum itu sebagai sesuatu yang berakar dalam komitmen spiritualnya. Kenyataan ini tercermin dalam susunan kitab-kitab fiqh, yang selalu dimulai dengan bab pensucian (thaharah) lahir, sebagai awal pensucian batin.

Walaupun begitu, tetap ada kemungkinan orang mengenali mana yang lebih lahiriah, dan mana pula yang batiniah. Sebenarnya, sudah sejak zaman Rasulullah s.a.w. sendiri, terdapat kelompok para sahabat Nabi yang lebih tertarik kepada hal-hal yang bersifat lebih batiniah itu. Disebut-sebut, misalnya, kelompok ahl al-shuffah, yaitu sejumlah sahabat yang memilih hidup sebagai faqir, dan sangat setia kepada masjid. Tidak heran bahwa kelompok ini, dalam literatur kesufian, sering diacu sebagai teladan kehidupan saleh dikalangan para sahabat.

Al-Qur'an sendiri memuat berbagai firman yang merujuk kepada pengalaman spritual Nabi. Misalnya, lukisan tentang dua kali pengalaman Nabi bertemu dan berhadapan dengan Malaikat Jibril dan Allah. Yang pertama ialah pengalaman beliau ketika menerima wahyu pertama di gua Hira, di atas Bukit Cahaya (Jabal Nur). Dan yang kedua ialah pengalaman beliau dengan perjalanan malam (isra ) dan naik ke langit (mi'raj) yang terkenal itu. Kedua pengalaman Nabi itu dilukiskan dalam Kitab Suci demikian:

Demi bintang ketika sedang tenggelam. Sahabatmu sekalian itu tidaklah sesat ataupun menyimpang. Dan ia tidaklah berucap karena menurut keinginan. Itu tidak lain adalah ajaran yang diwahyukan. Diajarkan kepadanya oleh Jibril yang kuat perkasa. Yang bijaksana, dan yang telah menampakkan diri secara sempurna. Yaitu ketika ia berada di puncak cakrawala. Kemudian ia pun mendekati, dan menghampiri. Hingga sejarak kedua ujung busur panah, atau lebih dekat lagi. Lalu Tuhan wahyukan kepada hamba-Nya wahyu yang dikehendaki. Tidaklah jiwa (Nabi) mendustakan yang dilihatnya sendiri. Apakah kamu semua akan membantahnya tentang yang ia saksikan? Padahal sungguh ia telah menyaksikan pada lain kesempatan. Yaitu didekat Pohon Lotus, di alam penghabisan Di sebelahnya ada Surga tempat kediaman. Ketika Pohon Lotus itu diliputi cahaya tak terlukiskan. Penglihatan Nabi tidak bergoyah, dan tidak pula salah arah. Sungguh ia telah menyaksikan tanda-tanda Tuhannya yang Agung tak terkira.

Bagi kaum Sufi, pengalaman Nabi dalam Isra-Mi'raj itu adalah sebuah contoh puncak pengalaman ruhani. Justru ia adalah pengalaman ruhani yang tertinggi, yang bisa dipunyai oleh seorang Nabi. Namun kaum Sufi berusaha untuk meniru dan mengulanginya bagi diri mereka sendiri, dalam dimensi, skala dan format yang sepadan dengan kemampuan mereka. Sebab inti pengalaman itu ialah penghayatan yang pekat akan situasi diri yang sedang berada di hadapan Tuhan, dan bagaimana ia "bertemu" dengan Dzat Yang Maha Tinggi itu. "Pertemuan" dengan Tuhan adalah dengan sendirinya juga merupakan puncak kebahagiaan, yang dilukiskan dalam sebuah hadits sebagai "sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata, tak terdengar oleh telinga, dan tak terbetik dalam hati manusia." Sebab dalam "pertemuan" itu, segala rahasia kebenaran "tersingkap" (kasyf) untuk sang hamba, dan sang hamba pun lebur dan sirna (fana ) dalam Kebenaran. Maka Ibn 'Arabi, misalnya, melukiskan "metode" atau thariqah-nya sebagai perjalanan ke arah penyingkapan Cahaya Ilahi, melalui pengunduran diri (khalwah) dari kehidupan ramai.
More aboutTASAWUF SEBAGAI OLAH RUHANI

TARIK-MENARIK ANTARA SYARI'AH DAN THARIQAH

Diposting oleh Kang Awin

Perpisahan antara kedua orientasi keagamaan yang lahiri dan batini itu kemudian mewujudkan diri dalam divergensi sistem-sistem penalaran masing-masing pihak pendukungnya. Maka dalam kedua-duanya kemudian tumbuh cabang ilmu Keislaman yang berbeda satu dari yang lain, bahkan dalam beberapa hal tidak jarang bertentangan. Seolah-olah hendak berebut sumber legitimasi dari al-Qur'an, maka sebagaimana orientasi keagamaan eksoteris yang bertumpu kepada masalah-masalah kehukuman itu mengklaim sebagai paham keagamaan (fiqh) dan jalan kebenaran (syari'ah) par excellence, orientasi keagamaan esoteris yang bertumpu kepada masalah pengalaman dan kesadaran ruhani pribadi itu juga mengklaim diri sebagai pengetahuan keagamaan (ma'rifah) dan jalan menuju kebahagiaan (thariqah) par excellence.

Akibatnya, polemik dan kontroversi antara keduanya pun tidak selamanya bisa dihindari. Ibn Taymiyyah, misalnya, melukiskan pertentangan antara orientasi eksoteris dari kaum fiqh dengan orientasi esoteris dari kaum sufi sebagai serupa dengan pertentangan antara kaum Yahudi dan kaum Kristen. Dengan terlebih dahulu mengutip firman Allah yang artinya, "Kaum Yahudi berkata, 'Orang-orang Kristen itu tidak ada apa-apanya,' dan kaum Kristen berkata, 'Orang-orang Yahudi itu tidak ada apa-apanya'" Ibn Taymiyyah mengatakan:

"Anda dapatkan bahwa banyak dari kaum Fiqh, jika melihat kaum Sufi dan orang-orang yang beribadat (melulu), akan memandang mereka ini tidak ada apa-apanya, dan tidak mereka perhitungkan kecuali sebagai orang-orang bodoh dan sesat, sedangkan dalam tarekat mereka itu tidak berpegang kepada ilmu serta kebenaran sedikit pun. Dan Anda juga dapatkan banyak dari kaum Sufi serta orang-orang yang menempuh hidup sebagai faqir tidak menganggap apa-apa kepada Syari'ah dan ilmu (hukum); bahkan mereka menganggap bahwa orang yang berpegang kepada Syari'ah dan ilmu (hukum) itu terputus dari Allah, dan bahwa para penganutnya tidak memiliki apa-apa yang bermanfaat di sisi Allah."

Ibn Taymiyyah tidak bermaksud menyalahkan salah satu dari keduanya, juga tidak hendak merendahkan sufi, sekalipun ia, sebagai seorang penganut mazhab Hanbali, sangat berat berpegang kepada segi-segi eksoteris Islam seperti diwakili dalam Syari'ah. Karena itu, Ibn Taymiyyah mengatakan,

"Yang benar ialah bahwa apa pun yang berdasarkan Kitab dan Sunnah pada kedua belah pihak itu adalah benar. Dan apa pun yang bertentangan dengan Kitab Sunnah pada kedua belah pihak adalah batil."

Tetapi terhadap pernyataan Ibn Taymiyyah ini, penyunting kitab Iqtidla memberi catatan demikian:

"Ini dengan asumsi bahwa ajaran kesufian itu ada kebenaran. Jika tidak, maka sebenarnya ajaran kesufian itu pada dasarnya adalah ciptaan sesudah generasi utama, yang dalam masa generasi itu hidup sebaik-baik umat dan para imam kebenaran pada umat itu. Sesungguhnya Allah, dengan Kitab-Nya dan petunjuk Nabi-Nya s.a.w. telah membuat kaum beriman tidak memerlukan apa yang ada dalam ajaran kesufian, yang dianggap orang mampu melembutkan hati dan membersihkannya."

Dari kutipan-kutipan itu dapat didasarkan betapa persimpangan jalan antara "kaum kebatinann (ahl al-bawathin) dan "kaum kezahiran" (ahl al-dhawahir) dapat meningkat kepada batas-batas yang cukup gawat. Tetapi benarkah memang antara keduanya tidak terdapat titik pertemuan?
More aboutTARIK-MENARIK ANTARA SYARI'AH DAN THARIQAH

Bulan Pernah Terbelah, Benar kah?

Diposting oleh Kang Awin on Kamis, 24 Mei 2012

Bagaimana dgn kejadian aneh rasullulah membelah Bulan di surah al Qomar ?

Kajian ilmiah oleh astronot NASA menemukan bahwa seketika dulu bulan pernah terbelah dua. Penelitian ini dilakukan ketika gambar-gambar yang direkam oleh satelit dan teleskop menunjukkan terdapat garis rekahan pada bulan. NASA telah mengirim 3 angkasawanya untuk penelitian yang lebih rinci tentang bulan. Setelah mereka melakukan penelitian, kesimpulannya, bahwa bulan pernah terbelah dua. Setelah hasil penelitian ini diungkapkan kepada umum, alangkah terkejutnya mereka, ketika diberitahu bahwa kisah bulan terbelah dua ini telah diceritakan oleh Al-Qur'an sekitar 1400 tahun yang lalu.

Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah Munawarah. Orang-orang musyrik berkata, "Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, cuba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang boleh membuktikan kenabian dan kerasulanmu (dengan nada mengejek)?
Rasulullah bertanya, "Apa yang kamu inginkan?" Mereka menjawab, "Coba belah bulan ..." Rasulullah pun berdiri dan terdiam, berdoa kepada Allah agar menolongnya. Lalu Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan dan terbelahlah bulan itu dengan sendirinya. Segera orang-orang musyrik pun berkata, "Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!"

Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja "menyihir" orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada di tempat itu. Lalu mereka pun menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan.

Orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama dari perjalanan menuju Mekkah, orang-orang musyrik pun bertanya, "Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?" Mereka menjawab, "Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing-masing-nya kemudian bersatu kembali ..."

Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya: "Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata," Ini adalah sihir yang terus-menerus ", dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka.

sejarah India dan Cina kuno (yang pada waktu peristiwa ini belum mengenal apa pun tentang Islam) telah mencatat dan menceritakan peristiwa ini. Sayyid Mahmud Syukri al-Alusi, dalam bukunya Ma Dalla 'Alaihi Al-Qur'an, mengutip dari buku Tarikh al-Yamini bawa dalam sebuah penaklukan yang dilakukan oleh Sultan Mahmud bin Sabaktakin al-Ghaznawi terhadap sebuah kerajaan yang masih menganut paganisme (musyrik) di India ia menemukan lempengan batu di dalam sebuah istana taklukan tersebut. Pada lempengan tersebut terpahat tulisan, "Istana ini dibangun pada malam terbelahnya bulan, dan peristiwa itu mangandung pelajaran bagi orang yang mengambil pelajaran."

Bukti lain diceritakan oleh Dr. Zaghlul, dalam bukunya Al-I'jaz Al-'Ilmi fi As-Sunnah An-Nabawiyah Jilid I, menceritakan tentang pengakuan seorang mualaf bernama David M. Pidcock. Pengakuan ini terjadi beberapa tahun lalu dalam satu ceramah Dr. Zaghlul di fakultas kedokteran Universitas Cardiff di Wales, Inggris Barat. Pidcock mengatakan bahwa ayat pertama dari surah Al-Qamar ini lah yang menyebabkan ia masuk Islam di akhir dekade 70-an. Ceritanya, saat itu ia sedang melakukan kajian terhadap agama-agama dunia. Salah satu teman Muslimnya menghadiahinya Al-Qur'an dan terjemahannya. Saat pertama kalinya ia membaca, ia langsung terkejut dengan surah Al-Qamar. Karena tidak percaya bahwa bulan pernah terbelah dan kemudian menempel kembali, maka ia tutup Al-Qur'an tersebut dan meninggalkanya begitu saja. Beberapa hari kemudian, tanpa disengaja ia melihat sebuah acara di BBC tentang perjalanan luar angkasa. Acara yang disiarkan pada tahun 1978 itu dipandu oleh penyiar Inggris terkenal bernama James Burke dengan menghadirkan tiga ilmuawan antariksa Amerika. Dalam wawancara tersebut, dibahas perjalanan ruang angkasa yang menemukan satu fakta penting bagi mereka.. Fakta tersebut adalah bahwa sesungguhnya bulan dahulu pernah terbelah kemudian melekat lagi, dan bekas-bekas yang membuktikan cerita ini masih terlihat di permukaan bulan dan membentang hingga ke dalamanya. Begitu mendengar penuturan ini, Pidcock lalu tersentak kaget dan teringat akan surah Al-Qamar yang ia pernah baca. Kemudian ia pun masuk Islam.
More aboutBulan Pernah Terbelah, Benar kah?

Black Hole (khunnas)

Diposting oleh Kang Awin


Tahukah Anda.. Ilmu Pengetahuan Modern telah membuktikan KEBENARAN ISI ALQURAN??
Barangkali penemuan kosmologi modern terpenting adalah apa yang disebut Black Hole (Lubang Hitam) yang menunjuk kepada bintang-bintang yang sangat berat massanya. Bintang merupakan entitas yang melewati fase pembentukan, kemudian ia membesar dan berkembang hingga sampai fase kematian. Nah, Black Hole itu berada pada fase terakhir. Ketika volume bintang itu berkembang dengan skala yang besar, maka gravitasinya meningkat hingga batas-batas yang sangat besar, sehingga ia menarik segala sesuatu, hingga cahaya tidak bisa terlepas dari gravitasnya yang besar.

Karena itu, kita tidak mungkin melihat benda ini selama-lamanya karena ia sangat terssaljuyi. Dan karena itulah ia disebut Black Hole. Para ilmuwan menyatakan bahwa benda ini berjalan di alam semesta dengan kecepatan yang tinggi dan menarik setiap benda yang mendekatinya. Seandainya kita meminta para astronom untuk mendefinisikan mahluk yang menakjubkan ini secara ilmiah dan sesuai dengan penemuan mereka yang paling baru, maka mereka akan mengatakan:

1. Black Hole adalah bintang yang berat massanya dan terssaljuyi sehingga tidak bisa dilihat.
2. Makhluk ini berjalan dengan kecepatan mencapai puluhan ribu kilometer per detik.
3. Black Hole menarik, menekan, dan membersihkan setiap sesuatu yang ditemuinya dalam perjalanannya.
Nah, sekarang kita merujuk kepada isyarat al-Qur’an mengenai benda tersebut. Allah berfirman yang makna harfiahnya sebagai berikut, ‘Maka aku bersumpah dengan khunnas, yang berjalan lagi menyapu.’ (at-Takwir: 15-16)

Mari kita cermati maknanya dan sejauh mana kesesuaiannya dengan data-data sain modern.
Kata khunnas berarti sesuatu yang tidak terlihat selama-lamanya. Kata ini terbentuk dari kata khanasa yang berarti terssaljuyi. Karena itu, setan dalam surat an-Nas disebut khannas karena ia tidak terlihat. Kata al-jawari berarti yang berjalan atau berlari. Dan kata al-khunnas terambil dari kata kanasa yang berarti menarik sesuatu yang dekat dan menghimpun kepada dirinya dengan kuat. Dan inilah yang benar-benar terjadi pada Black Hole, tepat seperti yang dibicarakan al-Qur’an.

Sain menyebut benda ini dengan Black Hole, tetapi penamaan ini tidak tepat. Karena istilah ‘Hole’ berarti kosong, dan itu sama sekali berlawanan dengan bintang-bintang yang memiliki massa yang berat sekali. Dan kata ‘Black’ juga tidak tepat secara ilmiah, karena benda ini tidak memiliki warna, karena ia tidak mengeluarkan suatu cahaya yang bisa dilihat.

Karena itu, kata khunnas adalah kata yang mendeskripsikan hakikat makhluk tersebut secara tepat. Dan kata khunnas yang berarti menyapu itu kita temukan di akhir artikel-artikel ilmiah tentang makhluk ini. Bahkan para ilmuwan menyatakan, ‘Benda itu menyapu ruang angkasa.’
Gambar di atas menunjukkan letupan suatu bintang karena kehabisan seluruh bahan bakarnya, dan ia mulai membentuk Black Hole (khunnas), karena energi pada bintang ini tidak lagi cukup baginya untuk eksis sebagai bintang. Inilah yang mengakibatkan bintang itu memudar dan meningkat gravitasinya. Dan karena itu al-Qur’an menyebut benda ini dengan kata al-jawari al-khunnas yang berarti yang berjalan dan berlari.

Fakta dan AngkaMengenai bobotnya, Black Hole seberat bumi itu diameternya kurang dari satu sentimeter saja! Dan Black Hole seberat matahari itu diamenternya hanya 3 km. Subhanallah!
Black Hole ukuran sedang itu beratnya 10.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 kilogram, atau 10 pangkat 31, dengan diameter 30 km saja. Ada banyak Black Hole di pusat galaksi kita dan galaksi-galaksi lain, dan satunya memiliki berat jutaan kali berat matahari.

Bagaimana Ilmuan Melihat Benda ini?
Bagaimana ia bisa dilihat sedangkan ia tidak mengeluarkan pancaran cahaya? Muncul pemikiran dari seorang peneliti bahwa Black Hole itu memiliki ukuran tertentu, dan ia berjalan di ruang angkasa. Ia pasti akan lewat di depan sebuah bintang sehingga cahayanya tertutup dari kita, seperti kejadian gerhana matahari. Setelah ide itu dilaksanakan dan terbukti benar, maka para ilmuwan sepakat bahwa cahaya bintang tersebut tertutup karena lewatnya Black Hole, sehingga mengakibatkan tertutupnya pancaran cahaya yang bersumber dari bintang tersebut. Hal itu terjadi selama jangka waktu tertentu, kemudian bintang tersebut kembali menunjukkan sinarnya.

Apa yg diungkap ALQuran 1400 tahun yg lalu mustahil itu karangan Muhammad SAW yang tak mungkin Ilmu Pengetahuan semacam sdh ada, ini menjadi penjelas bahwa AlQuran bukanlah kitab bikinan manusia, namun murni datang dari yg Maha Kuasa, Maha Pencipta Alam Semesta ini.
More aboutBlack Hole (khunnas)

Tasawuf Dan Kebatinan/Kejawen

Diposting oleh Kang Awin on Selasa, 22 Mei 2012


Dalam buku nya, Alwi Shihab memaparkan bahwa penyebaran Islam di negeri ini dilakukan antara lain oleh kaum ulama pesantren. Mereka ini menggunakan tasawuf Suni sebagai pegangan dalam penyebaran agama Islam, semenjak beberapa abad yang lalu. Dengan tasawuf tersebut, mereka melawan pandangan kaum kebatinan, yang dalam budaya Jawa di kenal dengan nama Kejawen. Sebagai bukti sejarah atas penentangan mereka itu, disebutkan Syekh Siti Jenar (Tanah Merah atau Lemah Abang) sebagai orang yang menyimpang dari tasawuf Suni di atas, dan karena itu dihukum mati oleh para Wali Sanga (Wali Sembilan). Mereka yang mengikuti pandangan itu, pada akhirnya mengembangkan paham kebatinan/kejawen di negeri kita. Penulis menolak anggapan ini, karena memang legenda hukuman mati atas tokoh tersebut memang dapat ditafsirkan dari sudut pandang yang berbeda-beda. Penulis mempunyai anggapan lain, yang tentu merupakan penafsirannya sendiri atas "kejadian" tersebut. Dengan mengetahui perbedaan pandangan itu, penulis yakin kekayaan kita akan sejarah pemikiran di negeri ini akan semakin berkembang.

Penulis melihat "kejadian itu dari sudut yang berbeda. Jika Alwi Shihab menganggap para ulama di negeri kita itu menentang kebatinan/kejawen, berarti para ulama itu menentang salah satu bentuk Wihdatul Wujud (Pantheisme, manunggaling kawula lan Gusti), maka penulis memiliki anggapan lain.
Dalam pandangan penulis, hukuman mati yang dijatuhkan Wali Sanga atas Syekh Siti Jenar, bukanlah karena beliau berpaham Wihdatul Wujud,-seperti yang diuraikan di atas, melainkan karena sebab lain. Beliau mengajarkan paham itu kepada orang banyak (kaum awam, laity). Dalam pandangan penulis, "dosa" Syekh Siti Jenar bukan terletak pada penerimaan beliau pada Wihdatul Wujud, melainkan dalam "sikap gegabah beliau dalam mengajarkan paham tersebut di kalangan orang kebanyakan". Karena itulah, kaum penganjur tarekat (dikenal di sini sebagai kaum tasawuf, kaum Sufi) selalu menekankan pentingnya menjalankan syariat sebelum bertasawuf.

Pandangan semacam ini dikenal di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan kaum tradisionalis lain dengan ungkapan; Man Yatakhaqq' wa lam Yatasyarra' fahuwa Zindiqum (orang yang berpandangan hakikat dan tidak menjalankan syariat, adalah orang yang sesat) kesimpulan dari pandangan ini adalah anggapan para ulama tradisionalis kita yang tidak menolak Wihdatul Wujud-nya Ibnu 'Arabi, melainkan melarang penyebarannya di kalangan mereka yang masih awam.

Dari kesimpulan tersebut, penulis beranggapan ulama tradisionalis kita banyak yang mengambil ajaran Wihdatul Wujud itu bagi diri mereka sendiri, karena mereka sudah menguasai syariat, yang dalam hal ini berbentuk fikih (Hukum Islam).

Dengan kata lain, mereka menolak penyebaran Pantheisme atau Wihdatul Wujud tersebut di kalangan orang awam, tetapi bagi kepentingan diri mereka sendiri, mereka juga menjalankan paham tersebut secara tertutup. Ajaran Wihdatul Wujud yang digunakan itu terutama adalah Wihdatul Syuhud (ajaran mengetahui sesuatu sebelum terjadi, dalam budaya Jawa di kenal dengan nama weruh sedurunge winarah).

Hal ini diperkuat antara lain dalam sikap almarhum KH Hasyim 'Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Beliau menolak dirayakannya ulang tahun kematian beliau (haul) di Tebuireng, Jombang, tiap setahun sekali. Beliau mengetahui dengan tepat bahwa suatu saat beliau akan disucikan (taqdisul maqbarah). Kalau ini yang terjadi, tentu disebabkan oleh ketidakmengertian orang awam terhadap "kesaktian" yang dimiliki. Tentu, hal ini sangat berbahaya, karena beliau lalu dianggap sebagai perwujudan Tuhan dalam kehidupan-yang tak lain dan tak bukan adalah konskuensi mengajarkan paham Pantheistik itu di kalangan orang banyak, yang memang merupakan bahaya bagi ajaran Islam. Bagaimanapun saktinya seseorang itu, tidaklah patut ia menjadi Tuhan, karena dia hanyalah seorang hamba belaka.

Dengan menggunakan pandangan ini, dapat dilihat bahwa kaum ulama tradisionalis kita tidak menolak ajaran Wihdatul Wujud itu, melainkan dilarang penyebarannya secara gegabah. Jadi dengan demikian, antara kaum syara' dan kaum kebatinan (kejawen) memang berbeda, tetapi tidak bertentangan. Dengan kata lain pula, bahwa tidak ada pertentangan prinsipial antara kaum Wihdatul Wujud (kebatinan/kejawen) dan kaum syariat yang menggunakan referensi fikih. Ini semua, tentu membawa konsekuensi-konsekuensi bagi pengembangan tradisi demokratisasi di negeri kita, yang tidak pada tempatnya untuk diuraikan lebih lanjut di sini. Namun, akan ada tulisan lain di masa depan mengenai konsekuensi tersebut.

More aboutTasawuf Dan Kebatinan/Kejawen
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...